Peduli Korban Banjir Jakarta dan Bekasi 2013

Saya memang bukan orang Jakarta asli. Saya juga sering komplain tentang kondisi Jakarta, kemacetan lah, gangguan kereta lah, busway yang penuh, trotoar yang direbut motor-motor, dan lain-lainnya. Tapi bagaimanapun, Jakarta telah memberikan banyak pelajaran, dan tentu saja pendapatan secara ekonomi buat saya pribadi, dan banyak orang yang tinggal di atas tanahnya.

Dan banjir yang melanda Jakarta juga daerah penyangganya seperti Bekasi, tentu saja memberikan efek buat mereka yang bukan orang asli itu, termasuk saya. Di balik segala hal yang perlu dievaluasi dari sisi yang bisa diatur oleh manusia, banjir telah mengetuk kepedulian banyak orang. Bantuan dalam berbagai bentuk disumbangkan. Gotong-royong, di samping banyak juga yang mengomersilkan bencana, kembali hadir di kalangan masyarakat urban.

Di Jati Asih, Bekasi, ketika saya bergabung dengan posko kesehatan persis di sebelah tanggul sungai setinggi rumah satu lantai yang meluap sebelumnya, saya mendengar banyak ungkapan, “Kalo ga gini kan kapan lagi kerja bakti,” kata penduduk sambil menyerok lumpur setinggi 5 sampai 10 cm di halaman rumahnya, dan bergantian membantu tetangganya.

Salah seorang penduduk merelakan rumahnya menjadi posko dan menyuplai air dari pompanya untuk kebutuhan para relawan, menyediakan air mineral, dan menyuplai makanan.

Dan dari banjir, saya juga bisa melihat secara langsung bahwa Jakarta bukan hanya Jalan Jendral Soedirman atau MH Thamrin, tempat di mana sehari-hari saya lewati. Ada Ulujami,  pemukiman yang sangat penduduk, yang jika terjebak banjir mereka pun susah keluar menuju akses evakuasi karena memerlukan peralatan tambahan seperti perahu karet.

Dari sisi penyikapan terhadap bencana, kadang saya haru. Ketika mengantar alat kebersihan dasar, higiene pribadi, selimut, dan makanan ringan melalui seorang Ibu Ketua RT, dia mengatakan, “Saya tidak akan ambil jika memang bantuan ini bukan buat saya, berikan apa yang untuk saya, dan yang lain akan saya sampaikan” Padahal cukup banyak “kelebihan” bantuan yang akan disalurkan kepada warganya saat itu.

Di satu sisi saya juga sedih. Karena beberapa masyarakat masih tidak bisa tertib dalam penyaluran. Mereka berebut, meminta lebih, tidak mau antri, bahkan membuka bungkusan yang  harusnya tidak dibagikan dan mereka bagikan sendiri. Bisa jadi mereka memang sudah terdesak oleh kebutuhan. Ini pelajaran lain untuk relawan dan untuk kita semua, bagaimana menularkan perilaku tertib dan mental tidak menghiba.

Demikian beberapa yang bisa saya tangkap dari pertama kalinya saya menjadi relawan dalam kondisi bencana. Tentu kontribusi yang sangat kecil, dan bisa jadi tidak terhitung jika tidak ikhlas.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: