Tentang Car Free Day (2)

Setelah merasakan sensasi car free day di Dago Bandung, sebagaimana saya posting dalam tulisan sebelum ini, saya membeli Kompas dan yang menjadi liputan di halaman utama adalah tentang trotoar, yang saya definisikan lebih lanjut sebagai hak pejalan kaki dalam tulisan ini.

Tertulis pernyataan Enrique Penalosa (Mantan Walikota Bogota, Kolombia) ketika berkunjung ke Jakarta dalam kegiatan Sustainable Jakarta Convention 2009, “Trotoar yang nyaman adalah elemen dasar bagi sebuah kota yang demokratis. Di trotoar, masyarakat dari kelas sosial dan ekonomi bertemu dalam status yang sama, sebagai pejalan kaki.”

Maka ketika berbicara car free Day, pemerintah sebenarnya sedang mendekatkan rakyatnya satu sama lain. Car free day lebih dari sekedar trotoar, yang di Indonesia kurang begitu diperhatikan keberadaannya. Car Free Day mengubah jalan raya sepenuhnya menjadi trotoar.

Maka, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari beberapa aspek pelaksanaan car free day ini.

Secara politis, car free day adalah fasilitasi bagi masyarakat untuk menikmati ruang publik yang selama ini mereka telah berkontribusi untuk pembangunannya, baik melalui pajak maupun retribusi lain yang dibayarkan kepada pemerintah. Selain itu, juga memberikan hak bagi masyarakat dari segala lapisan, terutama yang sehari-hari tidak memiliki kendaraan untuk menikmati jalan yang mereka ikut andil “membangunnya.” Terlebih, kalau para pejabat yang memberlakukan kebijakan ini juga membaur dengan warganya, melihat kondisi secara langsung, menyapa mereka, dengan tidak dibuat-buat dan jauh dari kesan protokoler.

Secara sosial, car free day harus didorong untuk menciptakan suasana guyub di masyarakat, terutama di kota-kota besar yang sudah mulai tergerus dengan kesibukan kerja dan terlihat agak kurang humanis. Di car free day, seniman jalanan bebas berekspresi. Komunitas berkumpul mengembangkan dan menunjukkan bakat. Semua kalangan berkumpul. Mereka menikmati kotanya. Dan, itu yang terpenting. Jika masyarakat sudah menikmati kotanya, ia akan merasa memiliki dan turut menjaganya.

Itulah strategi yang dilakukan Walikota Mockus (walikota sebelum Enrique Penalosa, yang sebagian programnya dilanjutkan Penalosa) selama dua tahun (1995-1997) untuk memfokuskan pada perencanaan kotanya secara jelas dengan program Formar Ciudad atau “Mendidik Kota” dengan penekanan para pembinaan kultur warga kota, ruang publik, lingkungan sosial, selain juga mengupayakan produktivitas urban hingga legitimasi institusional.

Secara ekonomi, car free day juga bisa mendorong usaha ekonomi kecil yang selama ini tidak terfasilitasi seperti pedagang asongan, atau pedagang kaki lima, yang di hari biasa menjadi target Satpol PP. Kenapa tidak difasilitasi saja di car free day, tentu saja ditempatkan dalam posisi yang sedemikian rupa sehingga tidak malah membuat jalanan menjadi pasar tumpah. Mereka bisa ditempatkan di kedua ujung dan pangkal dari jalur car free day dengan penataan yang apik dan rapih. Tentu saja dengan pembinaan tentang sikap menghargai kota, agar tempat transaksi tidak juga menjadi tempat di mana sampah akan berserakan, kemudian tanaman di sekitar akan rusak, dan hal-hal merusak lainnya.

Wah, saya membayangkan andainya kota-kota besar, seperti Jakarta menjadi kota yang humanis. Setiap hari kalau perlu. Seperti apa yang telah dilakukan Penalosa setelah melakukan restrukturisasi kota:

Orang-orang bersepeda di jalur yang nyaman. Sebagian lagi berjogging atau berjalan kaki di pedestrian, di antara taman-taman yang tertata apik. Sementara di jalanan, mereka yang memilih angkutan bus umum bisa melaju dalam kenyamanan. Jalanan lebar, dengan jembatan penyeberangan yang didesain menarik, meliuk-liuk di tengah keramaian jalanan. Pedestrian dan jalur sepeda nyaman serta luas, memanjakan warga kota untuk bisa menikmati kotanya.

Taman-taman rimbun dan menghijau diperindah dengan sejumlah pasangan memadu kasih (upps, hny mengutip dari sononya, mgkn yang sudah resmi maksudnya) atau para pelajar tenggelam dalam bacaannya. Rumah-rumah susun dan apartemen tersebar di sejumlah kawasan yang terhubung dengan jalur transportasi.

Beuuh, tapi mungkinkah itu di Jakarta dan kota besar lainnya?? Kapan ya kira-kira??

    • iman
    • December 21st, 2010

    yang rajin nulisnya y…good luck

    • Noti
    • January 5th, 2011

    Bagus..ide-nya out of the box..teruskan menulisnya🙂

  1. December 20th, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: