Tentang Car Free Day (1)

Kita membangun kota tidak melulu untuk bisnis dan kendaraan, tetapi untuk anak-anak, remaja dan orang tua. Jadi untuk masyarakat luas. Daripada membangun jalan, kami mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan membangun sarana pejalan kaki dan sepeda yang baik, membuat sistem transportasi umum yang handal, mengganti tiang-tiang iklan dengan pepohonan. Semua itu kami lakukan dengan satu tujuan, ‘kesejahteraan.”

Enrique Penalosa, Walikota Bogota, Kolombia (1998-2001), ketika berkunjung ke Jakarta tahun 2001

Berbicara tentang car free day, maka mungkin kita bisa melihat bagaimana seorang Penalosa menginisiasinya di Bogota. Pada tanggal 22 Desember 1999, Walikota Penalosa mengawali sepak terjangnya dengan memberlakukan pelarangan penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya (car free day) dan memaksa jutaan orang untuk menikmati lampu-lampu natal dari sepeda atau berjalan kaki dengan aman. “Jika kita bicara soal kota, kita harus bicara bagaimana seharusnya kita tinggal dan bermukim,” katanya. Wali Kota yang tadinya seorang akademisi bidang ekonomi, sejarah, dan administrasi publik itu akan dikenang sebagai wali kota yang berjuang keras menegakkan sebuah kota ideal.

Penalosa merekonstruksi kotanya dengan membuat 1.200 taman, menanam 100.000 pohon, merehabilitasi sekolah, dan permukiman-permukiman serta memperbaiki lingkungan. Dia memfokuskan kebijakannya pada bagaimana mendidik warga kota menikmati lingkungannya serta memperluas ruang publik.

Orang-orang kaya bisa menghabiskan waktunya di countryside, pergi ke klub, atau makan di restoran. Tetapi untuk rakyat susah, mereka menghabiskan waktu senggangnya di ruang publik. Untuk alasan itulah, tingkat hidup dan ruang terbuka maupun Pedestrian diperlukan agar demokrasi benar-benar berjalan,” kata Penalosa seperti dikutip sebuah media.

Penalosa melakukan referendum untuk menentukan kebijakan car free day dengan janji akan membatalkan kebijakan car free day jika memperoleh suara kurang dari 60%, walaupun akhirnya 61% menyetujui untuk dilanjutkan. Dan, pada tanggal 24 Februari 2000, secara resmi pertama kalinya diterapkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Bogota, dimana 7 juta penduduk dapat menikmati jalan raya yang aman dan udara yang nyaman. Saat itu satu setengah juta penduduk melakukan perjalanan dengan bersepeda dan berjalan kaki.

Dalam referendum lain yang dilakukan pada bulan Oktober 2000, 70% menginginkan dilanjutkannya hari bebas kendaraan, 51% bahkan mendukung gagasan untuk dilakukan setiap hari selama 6 jam. Dalam rencana induk yang dibuat oleh Penalosa, akses jalan lebih diutamakan untuk pejalan kaki, pemakai sepeda, maupun infrastruktur yang lebih mengutamakan angkutan umum. Sebaliknya, penggunaan angkutan pribadi lebih dipersulit dengan sejumlah ketentuan.

Pelaksanaan car free day-yang juga disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia-dimaksudkan pemerintah kota agar warganya bisa membayangkan bahwa kota tanpa kendaraan pribadi bukanlah hal yang mustahil. Dalam pemungutan suara yang diselenggarakan pemerintah kota, warga kota menginginkan acara tersebut bisa berlangsung setiap tahun. Selain kebiasaan berjalan kaki (hampir 30 persen warga Bogota berjalan kaki untuk melaksanakan aktivitas kesehariannya, termasuk pulang pergi sekolah atau bekerja), kebiasaan menggunakan sepeda juga semakin membaik. Jika pada tahun 1998, pengguna sepeda hanya 1 persen saja dari seluruh pengguna moda angkutan di Bogota, maka pada tahun 2002 meningkat hingga 4 persen.

Selama 3 tahun masa pemerintahannya, Walikota Penalosa telah membangun jalur sepeda sepanjang 350 km. Ini merupakan kota yang memiliki jalur sepeda terpanjang di Amerika Latin maupun di kota-kota negara berkembang lainnya.

Jalur-jalur sepeda dan pedestrian itu dibuat sangat kompak, sustain, dan terintegrasi serta memiliki akses yang sangat luas hingga menembus berbagai kawasan pemukiman. Selain itu, pemerintah kota pun memanjakan para pengguna sepeda dan pejalan kaki dengan berbagai regulasi keistimewaan (privilege).

Untuk mendukung ini, tak segan-segan walikota sendiri dan pejabat pemerintahnya memiliki jadwal tertentu untuk bersepeda saat pergi ke kantor. Oleh karenanya dalam waktu lima tahun, jumlah pengendara sepeda meningkat drastis hingga mencapai 100% nya, yakni dari 8% pada tahun 1998 menjadi 16% pada 2003. Bahkan hingga tahun 2005, ditargetkan sekitar 30% penduduk Bogota akan menjadikan sepeda sebagai salah satu moda transportasinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian pemerintah kotanya yang menyediakan fasilitas jalur sepeda yang aman dan nyaman tersebut.

Yang menarik adalah alasan yang di kemukakan oleh walikota, “Semua ini dilakukan untuk anak-anak. Jika kita menciptakan anak-anak yang bahagia, maka kita akan mempunyai segalanya, di samping masalah kesetaraan (equity).”Tambahnya lagi, “Setiap dollar harus dapat digunakan untuk membahagiakan anak-anak. Dari pada membangun jalan baru, kita harus membangun kota yang adil bagi semua orang“.

-GREAT!-

 

  1. December 19th, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: