Utilisasi ASI: Mencegah Malnutrisi Sejak Dini

Zulfadhli Nasution, ditulis 2006, gagalmenanglomba

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai masalah kesehatan yang nampaknya juga menjadi rangkaian ujian dalam menyongsong keberhasilan program Indonesia Sehat 2010. Satu yang masalah yang sangat penting (mungkin juga terpenting) adalah masalah malnutrisi, atau biasa disebut-sebut dengan istilah gizi buruk. Terkuaknya berbagai kasus di berbagai daerah Indonesia membuka lembar ujian itu.
Koran Tempo (7 Juli 2006) menyebutkan hasil studi World Food Programme dan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan kenaikan kasus gizi buruk yang meningkat 50% pada pertengahan tahun 2006. Dari 4,4 juta jiwa penderita, meningkat menjadi 6,2 juta jiwa. Dari sekian kasus tersebut, 29,8% terjadi pada balita, tersebar di 78 kabupaten/kota dan 772 kecamatan di seluruh wilayah Indonesia. Buruknya masalah gizi ini menyebabkan angka kematian bayi mencapai 55 jiwa per 1000. Wajarkah?
Jawabannya bisa ia bisa tidak. Bisa wajar karena memang masa anak-anak adalah masa yang rentan terhadap penyakit, karenanya di masa-masa inilah seseorang dianjurkan untuk diimunisasi dan divaksinasi, yang tujuannya tentu untuk memberi kekebalan dari datangnya berbagai penyakit. Namun bisa juga tidak wajar, jika seorang ibu memperhatikan imunitas dan vaksinasi alami sang anak, salah satunya dengan pemanfaatan air susu ibu untuk menyuplai gizi pada anak.
Kaitan antara pemberian ASI (air susu ibu) terhadap pencegahan malnutrisi pada anak telah diteliti sejak puluhan tahun lalu. Intinya, terungkaplah bahwa terdapat korelasi positif antara pemberian ASI dengan status gizi anak. Semakin sering anak mendapat perhatian (lewat menyusui) mempunyai probabilitas yang lebih untuk mendapatkan suplai nutrisi yang baik dibandingkan dengan bayi yang tidak disusui atau disusui tapi hanya sebentar saja.

Kandungan
Kandungan ASI dibedakan berdasarkan masa waktu laktasinya. Kolostrum adalah kandungan ASI yang diproduksi selama satu minggu sejak masa awal laktasi. Setelah itu, kandungan ASI disebut dengan mature milk. Keduanya memiliki kadar komposisi yang cukup berbeda. Kolostrum mengandung lima kali protein dibandingkan dengan yang terdapat pada mature milk. Dari 100% protein itu, 20%nya adalah kasein. Sebagian besar dari 80% sisanya adalah immunoglobulin A (Ig A). Yang lainnya yang juga penting adalah laktoferin yang membantu pengabsorpsian zat besi, juga lysozyme yang menghambat pertumbuhan bakteri. Kolostrum juga mengandung lemak dan karbohidrat, namun kadarnya lebih sedikit dari mature milk. Selain itu, semua vitamin terkenal dan mineral juga terkandung dalam kolostrum.
Mature milk juga mengandung protein (lebih kecil kadarnya dari kolostrum), lemak (lebih tinggi dari kolostrum), vitamin dan mineral. Kandungan dalam mature milk ini harus diupayakan sebergizi mungkin dengan cara memberi asupan yang bergizi kepada sang ibu.

Manfaat
Dengan kandungan yang sedemikian rupa dalam ASI, sudah tentu akan mempunyai manfaat yang sangat baik terhadap perkembangan nutrisi bayi. Setidaknya, manfaat itu terdiri dari manfaat kesehatan, psikologis, dan ekonomi.
Secara kesehatan, ASI mengandung sebagian besar kebutuhan nutrisi dan metabolisme bayi. ASI juga sangat steril dan dikeluarkan dengan temperatur yang tepat. ASI juga dapat mengurangi probabilitas sakit perut dan peradangan. Yang lebih penting lagi, ASI juga mengandung faktor-faktor anti-infeksi. Bayi yang menyusui biasanya lebih tahan terhadap malaria dan infeksi yang diakibatkan kuman atau virus (termasuk polio). ASI juga bisa mengurangi kemungkinan terkena penyakit rakhitis karena kekurangan zat besi. Kandungan-kandungan ASI yang terdiri dari immunoglobulin, limfosit, antibodi dan makrofag dapat mencegah multiplikasi patogen-patogen bakteri dan virus dalam saluran pencernaan bayi. Faktor anti-infeksi lain adalah lysozyme dan laktoferin yang manfaatnya telah disebutkan sebelum ini.
ASI mengandung pula faktor-faktor pertumbuhan yang memfasilitasi kolonisasi saluran pencernaan bayi dengan Lactobacillus bifidis, yang juga protektif dan membantu mempertahankan pH rendah yang akan menghambat pertumbuhan bakteri. Howie et al (1990) menunjukkan bahwa bayi yang menyusui untuk 13 pekan pertama dalam hidupnya, memiliki insiden yang berkurang terhadap infeksi pernapasan dan pencernaan. Proteksi itu berlangsung sampai tahun pertama kelahiran, walaupun proses menyusuinya berhenti.
Kaitannya dengan gizi buruk, maka fakta-fakta di atas dapat kita jadikan acuan sebagai beikut:
1. Dengan menyusui, bayi sudah diberi asupan terbaik sejak awal. Gizinya terpenuhi dan metabolismenya terperhatikan. Bukankah gizi buruk terjadi karena buruknya nutrisi yang dikonsumsi? Sedangkan ASI mengandung semua zat penting seperti lemak, vitamin, mineral, karbohidrat, dan protein? Bukankah kasus gizi buruk yang sering terjadi adalah kekurangan energi protein (KEP)? Padahal kolostrum, yang diproduksi seminggu awal, mengandung 5 kali protein dibandingkan dengan masa persusuan selanjutnya.
2. Dengan menyusui, berarti bayi sudah diberi faktor-faktor protektif bagi infeksi. Bukankah gizi buruk akan sangat mudah terjadi bila kondisi tubuh sedang dalam keadaan terinfeksi? Padahal terdapat sekian banyaknya faktor-faktor anti-infeksi yang dikandung dalam ASI.
Jadi jelas, dengan menyusui dari awal kelahiran sampai jangka waktu yang dianjurkan (bahkan sampai 2 tahun), bayi sudah dibekali dengan tameng anti gizi buruk yang paling alami, yang didapat dari sang ibu, orang yang terdekat dengannya. Efek lainnya bahkan menguntungkan bagi sang ibu. Dengan menyusui, ibu tidak selalu mendapat haid, dengan demikian dapat menyimpan persediaan zat besi.
Dari segi psikologis, menyusui berarti mendekatkan anak pada perhatian orang tuanya (terutama ibu). Rasa kasih sayang ibu pada bayi akan semakin bertambah bila ia terus didekatnya. Dengan demuikian, di hari depan ibu tidak akan rela bila anaknya akan mengalami masalah dengan gizinya. Sang ibu seharusnya akan semakin mengerti dengan pola makan anak yang ideal, dan di waktu melepas anaknya dari persusuan, hal itu akan semakin diperhatikan.
Dari segi ekonomis, menyusui juga tidak menghabiskan banyak biaya. Menyusui sangat praktis, tanpa mengurangi sterilitasnya. Ini juga akan mempengaruhi biaya pemeliharaan bayi tanpa harus membeli banyak susu dan makanan tambahan lain. Bukankah gizi buruk juga terjadi karena masalah ekonomi? Maka menyusui merupakan solusi dini bagi masalah ekonomi itu.
Berikut ini akan dipaparkan mengenai efektifitas dari menyusui di beberapa negara. Pada tahun 1943 di Liverpool, Inggris, jumlah angka yang menderita radang perut di antara anak-anak yang minum susu botol adalah lebih dari dua bekas kali anak-anak yang menyusui. Angka kematian bayi-bayi yang minum susu botol lebih tinggi dari bayi yang hanya menyusu pada ibu. Menurut studi tahun 1970 di San Salvador, tiga perempat bayi yang meninggal pada akhir bulan pertama hingga lima bulan kemudian hanya disusukan selama kurang dari tiga puluh hari, kalaupun disusukan, mereka yang meninggal pada paruh terakhir tahun pertama hidupnya, hampir setengahnya disusukan kurang dari satu bulan.
Sebagai penutup essay ini, maka gerakan menyusui balita perlu untuk disosialisasikan lagi kepada orang tua. Sosialisasi ini diharapkan dapat memicu turunnya kasus gizi buruk (pada anak khususnya) yang telah menjadi bahan pemberitaan media massa Indonesia akhir-akhir ini. Mencegah malnutrisi sejak dini? Tunggu apalagi. Hanya orang tua mengerti yang paham kebutuhan anaknya.

Rujukan
Helem, M.,N. Nutrition and Dietetics for Health Care. Tenth Edition. UK: Churcil Livingstone, 2002.
Berg, A. Peranan Gizi Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: CV Rajawali, 1986.
Koran Tempo (Jum’at, 7 Juli 2006)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: