Reorientasi Ospek

Zulfadhli N, pernah masuk media kampus, tahun 2009

Prosesi penerimaan mahasiswa baru mulai dilaksanakan di beberapa kampus. Sebuah prosesi yang mengiringi diumumkannya hasil SPMB di awal bulan agustus ini.

Namun di tengah kegembiraan para siswa yang lulus, mungkin terbetik satu kekhawatiran dalam menyongsong masa barunya beraktifitas di perguruan tinggi. Adalah ospek (orientasi dan pengenalan kampus), yang biasanya diasosiasikan dengan perploncoan dan pembinaan militeristik, membuat mahasiswa baru menjadi was-was. Terlebih, dalam tahun-tahun belakangan terdapat pencitraan buruk terhadap proses pembinaan dalam salah satu kampus kedinasan yang memakan beberapa korban jiwa.

Merupakan suatu yang wajar jika dalam aktivitas kemahasiswaan, dengan berbagai lembaganya, melakukan satu proses regenerasi dan kaderisasi. Maka, salah satu dasar pelaksanaan ospek adalah untuk hal tersebut di samping untuk membangun perkenalan personship dari mahasiswa angkatan tua kepada juniornya. Dengan inilah diharapkan, mahasiswa lama tidak menjadi cemas akan kontinuitas estafet pergerakan kampus.

Tapi nampaknya, pesan-pesan implisit itu ditangkap lain oleh mahasiswa baru. Ospek masih sering dianggap sebagai rutinitas tahunan. Banyak pula yang merasakannya sebagai sebuah keterpaksaan atau karena takut akan konsekuensi pengucilan dari kegiatan dan fasilitas kemahasiswaan.

Tentu perspektif yang seperti itu tidak dapat disalahkan begitu saja. Diakui atau tidak, pelaksanaan ospek memang sering kehilangan orientasi awalnya. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik berlangsungnya kegiatan ospek, yang setidaknya masih mengandung dua unsur: feodal dan non-esensial.

Feodal dalam konteks ini bermakna, bahwa mahasiswa baru masih sering dijadikan sebagai objek perploncoan. Mahasiswa senior seakan-akan mendaulat dirinya tanpa cela, dan juga antikritik. Kalaupun pintu kritisasi dibuka saat pelaksanaan ospek, hal itu hanya sekedar untuk menguji keberanian mahasiswa baru, namun komentarnya tetap tidak ditanggapi.

Pun dalam hal keteladanan. Mahasiswa baru tidak dapat merasakan contoh baik dari para seniornya. Justeru mahasiswa baru diberikan asosiasi bahwa senior yang populis adalah senior yang pandai beretorika dan berargumentasi di depan mereka sembari menciptakan situasi yang tegang dan mencekam.

Keteladanan yang natural sangat minim. Senior berpakaian sopan hanya pada saat ospek dilaksanakan, yang waktunya hanya satu sampai dua pekan saja. Begitupun dalam masalah ketepatan waktu. Belum lagi dalam bersikap santun, ramah, bersahabat, dan egaliter. Jadi, kalaupun ada keteladanan yang dirasakan saat ospek berlangsung, hanyalah bentukan belaka dan sifatnya hipokrit.

Karakteristik ospek lainnya yang masih sering ada adalah non-esensial. Yang dimaksud dengan non-esensial adalah masih banyaknya kegiatan dan tugas yang diberikan kepada mahasiswa baru tanpa esensi dan arahan yang jelas. Itikadnya hanya sekedar memberatkan junior, dengan legitimasi-legitimasi bahwa mahasiswa baru harus teguh, sabar, tidak boleh cengeng, dan sebagainya.

Dalam hal berpakaian misalnya, pernak-pernik yang dipakai rasanya tidak etis. Bukannya memberi kebanggaan sebagai mahasiswa, atribut yang dipakai justeru membuatnya malu dan tertunduk di depan masyarakat umum. Begitupun dalam kegiatan outdoor yang full marah-marahan dengan bisingnya teriakan senior. Padahal, yang disampaikan tidak ada yang baru. Hanya doktrin pergerakan yang diulang-ulang. Dengan sikap yang demikian, jelas fokus yang ditangkap mahasiswa baru lebih pada ploncoannya daripada memahami pesan yang disampaikan seniornya.

Dua karakteristik di atas masih berlangsung di berbagai perguruan tinggi. Termasuk, di universitas-universitas besar negeri ini.

Karenanya, reorientasi ospek perlu dipertimbangkan. Pelaksanaan ospek harus dikembalikan pada dasarnya sebagai wahana apresiasi dari mahasiswa angkatan tua kepada “rekan” penerus perjuangannya. Penulis berpendapat, untuk mereorientasi ospek ada tiga hal yang harus dijadikan dalam pelaksanaannya.

Pertama, bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah kebanggaan sekaligus beban besar dari sejarah pergerakan pemuda, bahkan sejarah pergerakan bangsa-bangsa dunia. Di Indonesia, jumlah mahasiswa hanya sekitar 2%, maka julukannya sebagai avant-garde (garda terdepan) harus diaplikasikan dalam hal-hal konkrit. Pemahaman ini dipersistenkan kepada mahasiswa baru agar mereka memahami esensi menyandang gelar mahasiswa.

Kedua, menjadi mahasiswa berarti mempersiapkan profesionalitas di bidangnya pascakampus nanti. Keterlibatan kita dalam perbaikan bangsa sebisa mungkin diupayakan melalui jalur akademis yang telah kita tempuh. Atau singkatnya, mahasiswa mempersiapkan kompetensi berdasarkan core­-nya masing-masing. Maka dalam ospek, arahan-arahan keilmuan dan kaitannya dengan realitas di masyarakat, mesti mendapat porsi yang cukup.

Ketiga, bahwa menjadi mahasiswa seharusnyalah menjadi bagian dari moral forces. Jadi, ospek diarahkan sebagai salah satu strategi untuk mengkooptasi perspektif mahasiswa baru yang beranggapan bahwa dengan menjadi mahasiswa berarti bebas berperilaku apa saja. Biasanya, dalih yang diungkapkan adalah, “kita bukan anak sekolahan lagi!” Padahal, sebagai pasukan moral, mahasiswa adalah bagian dari kontrol sosial, yang dengan intelektualitasnya seharusnya mampu menjadi teladan dalam berperilaku santun dan beretika.

Kita harapkan terjadi transformasi ospek baik secara paradigma maupun pelaksanaan teknisnya di lapangan sehingga ospek tidak lagi dirasakan sebagai beban oleh mahasiswa baru dan keluarganya, tetapi merupakan bentuk apresiasi dan introduksi akan dunia kampus yang lebih dinamis.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: