Mewaspadai Faktor Risiko Kesehatan Akibat Banjir

Zulfadhli Nasution, ditulis 2007

———

Di tengah upaya pemerintah DKI menangani flu burung, bencana kesehatan lain justru mengiringi. Selain kasus demam berdarah yang lagi-lagi menjangkiti warga ibukota, bencana banjir yang menghabisi ribuan rumah, puluhan jiwa, dan banyak kerugian lainnya menjadi ancaman berganda bagi kesehatan masyarakat.

Disebut ancaman berganda karena jika tidak segera ditangani akan menimbulkan dampak yang semakin bercabang dan meluas. Hal itu disebabkan situasi dan kondisi pascabanjir cenderung menjadi katalisator timbulnya berbagai penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Masalah kesehatan sendiri merupakan salah satu sub-impact dari bencana banjir. Bencana ini juga telah meluluhlantahkan infrastruktur, menjadi inhibitor produktivitas ekonomi, dan ”meliburkan” kegiatan belajar mengajar.  Kesemuanya itu sangat signifikan bila dinilai dengan hitung-hitungan rupiah, ditambah lagi dengan biaya bantuan, evakuasi dan rehabilitasi yang harus dikeluarkan dari kocek negara dan pemerintah daerah..

Banjir dan Potensi Penyakit

Banjir didefinisikan sebagai peristiwa melimpahya air keluar dari alur sungai ke jalan umum dan permukiman sehingga menimbulkan gangguan dan kerugian terhadap manusia. Melimpahnya air tersebut dikarenakan sungai dan tanah mengalami overflow sehingga air hujan tidak dapat diserap lagi secara optimal.

Banjir dalam skala besar, yang dialami Jakarta sekarang, tentu membawa potensi masalah kesehatan yang berkolerasi positif dengan skalanya. Masalah yang biasanya timbul adalah munculnya penyakit menular dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kondisi pengungsian.

Masalah kesehatan tersebut timbul karena beberapa faktor. Yang terpenting adalah masalah inadekuatnya sarana dan prasarana sanitasi. Faktor risiko ini juga menjadi penyebab warga menjadi kurang memperhatikan higienitas pribadi. Ditambah lagi, imunitas korban yang mulai tereduksi akibat sering berkotor-kotor dan berbasah-basah, tidak terlalu ter-back-up dengan asupan nutrisi yang cukup. Begitupun, air bersih menjadi sulit ditemukan, semuanya tercemar dengan lumpur dan sampah yang menumpang dalam aliran air bah. Kausa yang berurutan dan saling berkaitan tersebut pada akhirnya menimbulkan dua masalah yang terbesar: diare dan penyakit kulit.

Di pengungsian, korban pun mendapat tempat yang seadanya dan tidak mengurangi risiko penyakit, bahkan bisa menjadi stimulan untuk timbulnya penyakit. Situasi yang akan mendukung penyakit antara lain padatnya tempat evakusi, sementara ventilasi tidak memadai, diperburuk dengan dapur umum yang dekat atau di dalam penampungan. Itu semua menyebabkan kelembaban meningkat sehingga memudahkan terjadi penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut).

Diare juga menjadi masalah rawan di pengungsian. Penyakit lainnya adalah malaria yang diakibatkan karena adanya air-air kotor di area pengungsian dan juga campak akibat cakupan imunisasi di daerah asal pengungsi tidak mencapai 80%. Empat penyakit itu (diare, ISPA, campak dan malaria) diistilahkan dengan the big four dalam kaitannya dengan masalah kesehatan pascabanjir. Potensi penyakit lain, dengan frekuensi tidak sering, adalah tetanus akibat infeksi pada luka, leptospirosis akibat perubahan habitat tikus pascabanjir.

Manajemen Kesehatan dalam Situasi Bencana Banjir

Berdasarkan kronologis yang ditarik dari waktu terjadinya bencana, maka ada tiga urutan waktu yang idealnya menjadi bagian dari manajemen kesehatan di sekitar situasi bencana: pra, saat dan pasca.

Manajemen prabencana nampaknya yang selama ini diabaikan. Padahal, banyak pihak sudah memprediksi dan menyadari bahwa banjir adalah bencana musiman. Maka sangat naif bila hal itu selalu menjadi wacana di atas kertas saja.

Manajemen prabencana seharusnya melaksanakan apa yang disebut dengan contingency plan. Contingency plan adalah semacam rencana b untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi di luar kebiasaan.

Untuk melaksanakannya, perlu dibuat pemetaan potensi bencana dan masalah kesehatan yang akan ditimbulkannya. Bencana banjir yang disebut-sebut sebagai bencana musiman seharusnya justru semakin memudahkan prediksi. Sehingga kalaupun bencana terjadi tidak akan menyebabkan kepanikan dan kesimpangsiuran koordinasi.

Saat banjir terjadi, idealnya dilaksanakan apa yang telah direncanakan dalam contingency plan, tentu dengan konteks yang paling riil dengan bencana yang terjadi. Biasanya, saat bencana berlangsung prioritas penanganan ada pada masalah medik (peetolongan pertama) dan evakuasi.

Pascabanjir, penanganan difokuskan pada pemeliharaan dan rehabilitasi korban. Semua hal yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat dilaksanakan seperti penyediaan air bersih, sarana sanitasi, penanganan masalah gizi, psikososial, pemukiman, vaksin, penyuluhan mengenai higienitas dan lain sebagainya dalam kaidah-kaidah public health. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan manajemen disaster epidemiology, disaster nutrition, dan juga disaster environmental health.

Tuntaskan Akar Masalah

Banjir adalah akar masalahnya. Membiarkannya tidak diintervensi hanya akan membuat banyak pihak lelah dengan persistensi masalah sesuai siklusnya. Untuk itu, perlu koordinasi dan aksi yang integral dari semua pihak.

Beberapa hal yang penulis ketahui, direkomendasikan untuk mencabut masalah ini dari akarnya. Pertama, perlu dibuat review dan revaluasi tata ruang kota yang ada sekarang, apakah telah memenuhi prosedur analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Kedua, perlu dibuat sistem hardware yang dapat mengantisipasi banjir, entah dengan memperbanyak daerah resapan, atau kita pun bisa belajar dari Belanda yang tidak banyak bermasalah dengan banjir walaupun ada daerah yang ketinggiannya berada di bawah permukaan laut. Ketiga, lingkungan hidup sudah banyak dieksploitasi di kota ini. Hutan kota sudah digusur dengan berbagai pembangunan, sampah tidak terurus, sementara polusi yang menyebabkan polusi merusak iklim.

Semuanya harus kembali memberikan hak-hak lingkungan untuk dipelihara dan tidak sekedar mengeksploitasinya!

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: