Masih di Negeri Aneh

Zulfadhli

Entah masih disandang atau tidak, julukan Zamrud Khatulistiwa bagi negeri kita sudah jarang dibicarakan, jarang diungkap lagi. Kalau boleh hiperbolis dan sedikit “maksa”, mungkin zamrud khatulistiwa bisa diantiakronimkan menjadi zaman makin rumit dan mengkhawatirkan, itulah Indonesia seperti tidak berwibawa.”

Masalah utamanya bukan pada kuantitas sumber daya yang ada. Banyak orang sudah mafhum. Bangsa ini kaya hutan, paru-paru Asia. Jati, Cendana, Borneo, adalah contoh unggul hasil hutan. Minyak bumi bertebaran, mengendap di berbagai titik di Indonesia. Belum lagi batu bara, besi, emas, hasil laut, semen dan berbagai sumber daya alam lain yang sepertinya mustahil untuk tidak ditemukan di Indonesia. Setidaknya, itulah yang dapat diketahui dari pelajaran geografi sewaktu duduk di bangku sekolah.

Namun, sumber alam itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Jepang, minim sumber alam. Arab Saudi, tandus. Malaysia dahulu banyak belajar dari Indonesia. Indonesia sekarang? Keadaannya jauh, ada gap. Sudah tidak perlu dibahas lagi perbandingannya. Satu keanehan di negeriku.

***

Orang beralasan, hal itu mungkin dikarenakan minimnya output pendidikan yang berkompeten untuk membina sebuah perubahan. Tapi nyatanya, output-output pendidikan Indonesia yang notabene sudah sampai tingkat sarjana, masih banyak yang menganggur. Apatah lagi dengan mereka yang sama sekali tidak sempat merasakan pendidikan di tengah lapangan pekerjaan yang semakin sempit digusur oleh keadaan-keadaan yang tidak menentu.

Parahnya lagi, output-output pendidikan yang mencapai puncak-puncak jabatan (baca: amanah) malah melakukan hal yang berbanding terbalik dengan nilai-nilai intelektual yang dimilikinya. KKN dalam jumlah besar misalnya, jarang terdengar dari mereka yang hanya lulus SD atau SMP. Justeru, KKN dengan tingkat penyelewengan tinggi terendus dari mereka yang berpendidikan tinggi pula, yang katanya berkualitas. Satu lagi keanehan di negeriku.

***

Mistisme dan tahayul juga sering menjadi mainan di negeri ini, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam keadaan tertekan. Mantera-mantera, jampi, pusaka, sesajen merupakan bagian dari keadaan negeri ini yang penuh mistik. Katanya, itu warisan sejak zaman dahulu kala, ketika mereka yang bergelar raja-raja memerintah sebelum zaman penjajahan. Kesaktian adalah salah satu yang katanya akan didapat dari sebuah ritual mistis. Anehnya, kalau memang benar kita bisa sakti dengan keris, sesajen atau hal-hal “berbau dupa” lain, mengapa negara ini bisa dijajah lebih dari tiga abad. Itu bukti bahwa mistisme bukan sebuah solusi, ia hanya angan-angan.

Nyatanya, butuh darah-darah pejuang sebagai tebusan bagi kemerdekaan dan dari situlah timbul kewibawaan. Butuh tindakan konkrit. Jika saat perjuangan itu pertolongan Tuhan datang, itu adalah bantuan bagi perjuangan yang dilakoni dengan nyata dan sesuai dengan aturannya, tidak abstrak dan penuh tahayul. Mistisme, keanehan lain di negeri ini.

***

Kota-kota besar macet. Jalan-jalan penuh oleh kendaraan bermotor yang membuang polusinya. Mulai dari yang biasa-biasa saja, sampai yang mewah, bisa kita perhatikan di jalan. Maka jalanlah ke lampu merah atau persimpangan jalan. Anak-anak kecil, orang-orang tua, bahkan remaja yang masih kuat secara fisik, “dipaksa” keadaan untuk menadahkan tangan pada mobil-mobil itu, atau sekedar menjadi calo atau polusi cepe.

Kemudian mobil-mobil itu berjalan lagi, menyusuri kolong-kolong jembatan layang yang kumuh, dengan bedeng-bedeng kardus. Menyusuri lagi jembatan yang di bawahnya terdapat sungai yang bukan lagi berwarna coklat, tetapi sudah hitam, tetap dengan bedeng-bedeng kardus di sisi alirannya.

Tapi, musik di dalam mobil-mobil itu tetap mengalun. Kebisingan di luar jendelanya tidak menembus si pengemudi dan penumpang. Jendela (atau bahkan telinga) sudah kedap suara. Sang supir pun bersiul-siul, seperti senang setiap hari. Mobilnya tetap berjalan. Keadaan sosial di negeriku yang aneh.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: