Mahasiswa Menakar Daya Tawar

Zulfadhli N, gagalmasukmedia, 2008

Kekerasan terhadap mahasiswa oleh aparat kembali menjadi perhatian. Peristiwa yang nampaknya paling menjadi sorotan adalah saat Polisi merangsek masuk ke dalam kampus Universitas Nasional (Unas) Jakarta bulan Mei lalu. Beberapa mahasiswa ditahan, ada pula yang terluka, bahkan akhirnya harus dirujuk ke rumah sakit.

Salah satunya adalah Maftuh Fauzi, mahasiswa Sastera Inggris angkatan 2003. Setelah sempat ditahan, akhirnya ia dilarikan ke RS UKI karena terluka di beberapa bagian tubuhnya. Terakhir, Maftuh dirujuk ke RS Pusat Pertamina.

Dari RSPP inilah bola salju wacana represifitas aparat terhadap mahasiswa semakin memadat. Pasalnya, Maftuh akhirnya meninggal dunia (Jumat, 20 Juni). Yang jelas, di antara kontroversi penyebab meninggalnya, Maftuh dan mahasiswa Unas adalah bagian dari korban represifitas aparat yang masuk kampus. Bahkan, bila berita yang menyatakan penyebab meninggal Maftuh karena HIV adalah tidak benar, maka ini bukan lagi wacana kekerasan biasa, tapi sudah konspiratif, terencana, disertai kebohongan kepada publik.

Rekan-rekan mahasiswa Unas pun diselimuti duka. Perjuangan mereka yang awalnya ditujukan untuk menolak kenaikan harga bahan bakar minyak, seperti juga banyak aksi mahasiswa lainnya, harus berbahankan nyawa seorang mahasiswa.

Dari peristiwa ini, penulis ingin menyampaikan beberapa poin yang bisa dijadikan refleksi bagi pergerakan mahasiswa. Pertama, bisa jadi ini merupakan test-case aparat terhadap daya tawar “kekuatan” mahasiswa. Bahkan, berani-beraninya aparat sampai masuk kampus. Oleh karenanya, setiap kasus kekerasan terhadap mahasiswa mesti dituntut sampai jelas siapa dalangnya dan diberikan hukuman yang sesuai.

Di bulan Mei juga, sebenarnya mahasiswa UI ada yang terserempet peluru karet saat gelaran aksi di depan Gedung DPR/MPR. Yang disayangkan, nampaknya kasus ini selesai dalam beberapa hari saja. Press release dari rekan-rekan BEM UI pun dilaksanakan sudah jauh dari hari peristiwa terjadinya. Seharusnya, ini bisa diblow-up sehingga mahasiswa bisa bilang kepada aparat, “jangan main-main dengan kami!” Dengan demikian gerakan mahasiswa tetap ditakuti sehingga tidak lagi dipermainkan, apalagi di “kandangnya” sendiri dan tidak akan ada lagi kasus serupa di kemudian hari.

Kedua, secara introspektif, bisa jadi daya tawar aksi mahasiswa memang sedang melemah, sehingga aparat pun mulai tidak segan (kembali) terhadap mahasiswa. Pernyataan-pernyataan pejabat bisa kita jadikan indikator tentang ini. Ada yang mengatakan aksi mahasiswa adalah hal yang biasa dalam menyampaikan pendapat. Ada yang mengatakan pemerintah sudah mewaspadai aksi mahasiswa yang akan meningkat ekskalasinya, seperti biasa di bulan Mei setiap tahunnya.

Ini artinya, di mata pemerintah aksi mahasiswa bukan lagi aksi yang menekan. Tapi sekedar kebiasaan. Jadi, yang ditanggapi bukan lagi substansi aksinya, tapi teknis aksinya. Aksi menolak kenaikan BBM, kalau dianggap tidak melanggar ketertiban umum dibiarkan tanpa follow-up. Tapi kalau dianggap melanggar ketertiban umum, aksinya dibubarkan dan mahasiswanya ditangkap. Setelah itu, bergeserlah wacananya menjadi kekerasan terhadap mahasiswa, isu kebebasan berpendapat dan sejenisnya. Dalam hal ini, polisi bisa jadi dipasang menjadi tameng yang dikorbankan pemerintah dalam penggeseran kasus BBM.

Oleh karenanya, yang ketiga, mahasiswa harus tetap konsisten mempertahankan daya tawarnya tanpa melupakan tuntutan-tuntutan awalnya. Dalam hal ini, sinergisitas dan solidaritas dari elemen mahasiswa nampaknya perlu terus dikembangkan sehingga kemasifan daya tawarnya lebih solid dan tidak dipandang biasa oleh aparat dan pemerintah.

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: