KORUPSI, KEMERDEKAAN DAN HATI

Zulfadhli Nasution, ditulis untuk ambil beasiswa pertama kali, 2006

Suatu hari, di abad ke-21, Stadion Istora Senayan yang terletak di ibukota Indonesia dipadati penonton. Kapasitas maksimal 100.000 kursi terisi penuh. Semua penonton berkewargaanegaraan Indonesia, dari lurah sampai pejabat tinggi, dari pedagang kaki lima hingga pedagang lintas negara. Mereka berjubel menduduki bangku-bangku stadion, tidak sabar hendak menyaksikan perhelatan yang akan segera digelar.

Ada apakah di sana? Ternyata ada sebuah kontes baru yang digelar secara internasional. Miss Universe? Bukan! Atau International Idol? Juga bukan! Piala Dunia? Lagi-lagi bukan. Ini adalah sebuah pertunjukan yang aneh dan menggelikan. Sebuah perhelatan yang bernama KKN: Kontes Koruptor Negara-Negara. Di ajang inilah negara-negara bisa unjuk gigi memamerkan jumlah koruptor yang dimilikinya. Disebut aneh karena punya koruptor banyak aja pamer. Disebut menggelikan karena sudah aneh kok masih digelar….

Bagaimanapun, acara telah dibuka. Dari pintu utama, masuklah dua mobil bak terbuka dengan plat Vietnam. Kemudian turunlah 24 orang dari setiap mobil. Pembawa acara berkata, ”Inilah para koruptor dari Vietnam!!” Sontak para penonton ricuh, “Huuuuuuh!!!” Mereka mencemooh para koruptur yang dibicarakan pembawa acara. Setelah dicemooh, keluarlah rombongan dari Vietnam. Keluarnya mereka diiringi dengan masuknya dua bis rombongan dari India. Masing-masing bis mengangkut 48 orang koruptor. Saat koordinator koruptornya baru saja membuka pintu bis, para penonton langsung bereaksi, ”Huuuuuuuuuuuuuuh!!”, kali ini dengan teriakan yang lebih kencang dan panjang. Tahu begitu, para koruptor dari India langsung menutup pintu bis kembali dan melaju keluar arena karena malu.

Akhirnya, setelah sekian banyak peserta ditampilkan, sampailah kita pada peserta terakhir yang mungkin juga paling ditunggu-tunggu: Indonesia. Ya… Indonesia, yang menurut Dato Param Cumaraswamy, pelapor khusus dari PBB, termasuk yang terburuk dalam kasus korupsi, terutama dalam bidang peradilan. Memegang skor 9,92 dari skala 1 sampai 10 (1 yang tebaik, 10 yang terburuk). “Mengalahkan” India (9,26) dan Vietnam (8,75).

Menantikan masuknya rombongan koruptor dari negeri sendiri, penonton nampak terdiam. Hingga kemudian pembawa acara membuka suara dan berkata, “Mari kita sambut peserta terakhir dari Indonesia!!” Tapi anehnya, penonton tetap diam. Sementara, gerbang stadion yang menjadi tempat masuknya rombongan kontestan mulai terbuka.

Sepi. Tidak terlihat mobil, bis atau mungkin truk yang sekiranya akan mengangkut kontestan Indonesia. Hingga gerbang terbuka penuh, tetap tidak ada kontestan, satu pun. Para penonton, yang 100.000 orang itu pun bersorak, bertepuk tangan, berteriak, “Horeeeeeee!!” sambil tertawa-tawa. Akhirnya kontes ditutup dan penonton membubarkan diri.

Cerita selesai Tapi ada adegan yang belum disampaikan yaitu penetapan pemenang. Tahukah anda? Bahwa ternyata, walaupun “tidak ada” kontestannya, Indonesia tetap dijadikan sebagai pemenang, pemegang rekor sebagai negara yang paling banyak koruptornya. Bahkan, karena saking banyaknya, para koruptor itu sejak awal kontes sudah menduduki dan memenuhi seluruh bangku penonton di stadion.

***

Cerita di atas hanya anekdot yang semoga tidak menjadi kenyataan. Marilah kita yakinkan diri ini bahwa hal itu tidak akan terjadi. Keyakinan merupakan harapan yang diprediksi dari usaha riil. Harapan dimulai dari penetapan tekad dan pikiran yang dioperasikan di hati dan akal. Akal sebagai pusat rasio, sedangkan hati sebagai pusat perasaan yang di dalamnya terdapat nurani. Dengan demikian, menjaga keyakinan agar diri kita tidak melakukan kejahatan (seperti korupsi), harus dimulai dengan hati yang bersih. Rasio tanpa hati yang bersih tidak akan selalu membawa pada kebenaran dan kebaikan, karena ia akan selalu mencari-cari alaan, membenarkan kesalahan.

Banyak yang mengatakan bahwa korupsi timbul karena minimnya penghasilan, rendahnya kesejahteraan. Tapi lupakah kita? Koruptor besar di negeri ini adalah mereka yang berpenghasilan besar, bermobil mewah dan berpenampilan mentereng. Kurang apalagi yang mereka miliki? Hanya dengan memiliki koneksi penguasa, dengan menyelewengkan tanggung jawab, menggelapkan amanah, korupsi itu terjadi. Mereka bukan lagi melakukan korupsi karena kebutuhan, tapi selalu butuh melakukan korupsi.

Dengan demikian, mereka belum merdeka sebenarnya. Karena sejatinya, merdeka itu lepas dari segala keterikatan yang menjerumuskan. Secara fisik, Belanda, Jepang, Sekutu telah menjajah dan menjerumuskan bangsa ini dalam rangkaian panjang melebihi tiga abad, hingga akhirnya kita merdeka sebagai negara berdaulat. Tetapi, kemerdekaan negara yang sudah ke-61 belum berhasil memerdekakan individu-individu warga negaranya dari sifat-sifat kepenjajahan.

Para koruptor pun sebenarnya miskin. Aa Gym bilang, kaya itu bila kita sudah tidak terikat dengan kebutuhan. Kebutuhan yang diingikan harus lebih kecil dari apa yang kita nafkahkan: itulah kaya. Jadi, korupsi itu timbul bukan karena minimnya penghasilan, tapi karena hati belum merdeka dan masih miskin.

Para koruptor itu tidak dapat memfungsikan hatinya dengan jernih. Menjaga indera tubuhnya dari kejahatan sudah tidak bisa dilakukan akibat pengawal tubuhnya sudah kotor. “Dalam tubuh itu ada segumpal darah, bila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, tapi bila dia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ingat! Itulah hati.” Hati juga ibarat cermin. Bila bersih maka kita dapat mengevaluasi diri, melakukan penyadaran lewat cermin. Mana bagian yang masih kotor, mana pula yang masih semrawut? Bila cermin itu sudah kotor, maka tentu sulit untuk menyadarkan diri ini. Cermin-cermin di Indonesia sudah banyak dikotori oleh pemiliknya. Pedagang cermin di daerah Senayan, tempat dewan yang katanya terhormat, menjadi sindirian bagi para pemilik kuasa untuk segera memperbaharui cerminnya.

Jadi, membasmi korupsi harus dimulai dari diri sendiri. Caranya, dengan memerdekakan diri, yang berarti melakukan pembersihan hati. Setelah iu, marilah mulai dengan usahaa riil dari hal-hal kecil. Dari sinilah kita akan yakin untuk tidak menjadi bagian dari koruptor!

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: