Penanggulangan Krisis Kesehatan Masyarakat Akibat Bencana

Zulfadhli Nasution, gagalmasukmedia, ditulis 3 Des 2010

Alam Indonesia kembali meradang. Banjir bandang Wasior, tsunami di Mentawai, letusan Gunung Merapi, banjir yang mengancam Ibukota, dan beberapa kejadian di daerah lain sebelumnya, seakan menjadikan negara ini sebagai inkubator bencana. Lengkap menerjang dari belahan barat sampai ke timur, menjangkau darat, laut dan udara.

Tentu saja yang paling merasakan dampaknya adalah korban yang terkena imbas langsung di lokasi. Dampak kritis saat terjadinya bencana adalah keselamatan dan kesehatan korban. Begitupun dalam masa penanganan setelah terjadinya bencana, kesehatan korban merupakan hal prioritas.

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2008, Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (Kementerian Kesehatan sekarang) mencatat telah terjadi 456 kali kejadian bencana pada tahun 2008 di hampir seluruh wilayah Indonesia yang mengakibatkan krisis kesehatan. Bencana tersebut terdiri dari bencana alam seperti tanah longsor, banjir, puting beliung, bencana di bidang kecelakaan industri, ataupun konflik sosial.

Dari itu semua, bencana alam tercatat menyumbang frekuensi terbesar dengan prosentase berturut-turut: banjir (42%), tanah longsor (17%), dan angin puting beliung (14%). Tanah longsor menyumbangkan korban meninggal dunia terbesar sebanyak 103 jiwa, dan banjir memakan korban 58 jiwa. Belum lagi jumlah yang mengungsi akibat bencana tersebut. Ada lebih dari 300 ribu jiwa pengungsi banjir, 23 ribu lebih pengungsi banjir bandang, dan 10 ribu lebih pengungsi akibat gempa.

Itu data yang tercatat dua tahun lalu. Kini di tahun 2010, agaknya angka-angka itu dapat dipastikan melonjak. Dari korban tsunami di Mentawai bulan ini saja, sudah tercatat 431 jiwa (BNPB, 1/11), melewati semua korban tanah longsor yang terjadi sepanjang tahun 2008. Di samping korban jiwa, korban di pengungsian juga harus mendapat perhatian, dikarenakan rentannya kondisi mereka secara fisik sekaligus psikis.

Potensi Krisis dan Kerugian

Penyakit-penyakit yang rentan dalam keadaan bencana seperti infeksi saluran pernapasan akut, diare, gangguan kulit, ditambah dengan kualitas air bersih yang tidak memadai, udara di pengungsian yang tidak tertata, sangat mungkin menyebabkan permasalahan kesehatan jangka panjang bagi korban setelah bencana. Terlebih lagi bisa terjadi lonjakan penyakit yang spesifik di beberapa kondisi, seperti leptospirosis dalam bencana banjir. Secara psikis, gangguan mental dapat terjadi seandainya tidak ada perawatan dan pengasuhan jiwa yang memadai untuk mengobati trauma akibat shock karena menjadi korban bencana.

Disease Control Priorities Project (2007) membuat catatan bahwa kerugian kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan bencana alam ternyata disproporsional terjadi pada negara-negara berkembang dibandingkan negara maju, dengan jumlah lebih dari 90% bencana yang menyebabkan kematian, dan sebagian besar berimbas pada kalangan ekonomi miskin. Walaupun jumlah kerugian ekonomi dalam mata uang negara maju lebih besar, tetapi bila dihubungkan dengan gross national product, negara-negara berkembang jauh lebih rugi dibandingkan negara maju bila terkena bencana.

Dengan banyaknya kejadian bencana, maka semakin mungkin terjadi krisis kesehatan masyarakat di negara ini setiap terjadi bencana. Burkle dan Greenough (2008), peneliti Harvard Humanitarian Initiative menyatakan, bahwa faktor utama yang dapat meningkatkan, mempercepat, atau menghasilkan sebuah bencana menjadi krisis kesehatan masyarakat dalam kasus-kasus berpotensi menghasilkan cedera, kesakitan, atau kombinasi keduanya adalah sebagai berikut:

a) negara berkembang yang sistem dan infrastruktur kesehatan masyarakatnya kurang baik atau tiada sama sekali; b) ketidaksempurnaan dan ketidakmampuan kapasitas infrastruktur dan sistem kesehatan yang ada untuk merespon krisis; c) kapasitas dan kapabilitas kesehatan masyarakat yang telah hancur, atau tidak terjaga akibat dari bencana itu sendiri; d) bencana yang terjadi menyebar dalam area geografis yang luas; e) bencana terjadi dalam waktu yang lama; dan f) lingkungan dan ekologi yang rusak, atau lingkungan yang berubah menjadi lebih buruk akibat bencana

Kondisi Indonesia dengan bencana alam yang terjadi belakangan nampaknya memiliki banyak kesamaan dengan karakterisktik tersebut. Pemerintah beserta instrumen terkait seharusnya memerhatikan hal ini dengan lebih lanjut. Toh, peristiwa bencana ini bukan baru terjadi satu-dua tahun belakangan ini. Dan, bencana yang terjadi pun sebenarnya memiliki karakteristik yang tidak acak.

Gempa bumi dan fenomena erupsi vulkanis misalnya, akan berlangsung di sepanjang garis antara dua lempeng tektonik pada dasar bumi atau laut. Pantauan terhadap aktivitas Merapi pun sebenarnya sudah dilakukan jauh hari. Wilayah yang terkena banjir musiman, kekeringan, atau badai tropikal juga dapat diketahui apabila diamati dengan baik. Banjir bandang di Wasior dan yang mengancam Jakarta, juga sudah pernah terjadi sebelumnya.

Penanggulangan

Instrumen penanggulangan bencana bidang kesehatan yang saat ini sudah terdapat dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri, dan pedoman-pedoman yang dikeluarkan kementerian, hendaknya tidak sekedar menjadi instrumen sesaat saja saat jika terjadi bencana. Kalau demikian, penanganan yang terjadi hanya bersifat tambal-sulam, kurang antisipatif, dan sporadis.

Penanggulangan kesehatan masyarakat akibat bencana, dan bencana itu sendiri secara umum, harus ditangani dengan pendekatan yang berkesinambungan dan komprehensif. Berkesinambungan dalam arti dimulai sejak sebelum terjadinya bencana dengan sistem peringatan dini yang baik dan akurat sampai dengan penanganan pascabencana dengan rekonstruksi fasilitas dan pelayanan kesehatan. Komprehensif meliputi berbagai aspek fisik, mental, sosial, dan ekonomi, sebagaimana definisi “sehat” yang tertuang dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Terakhir, penulis merekomendasikan program-program bagi masyarakat di kawasan rentan agar siaga terhadap kemungkinan bencana (disaster awareness). Program pencerdasan dilakukan dengan pendekatan geografis lokal, seperti waspada tsunami dan gempa untuk daerah kepulauan dan pesisir pantai, gunung meletus untuk daerah yang berada di jalur gunung api, banjir untuk daerah dataran rendah, dan sebagainya.

Hal tersebut bisa difasilitasi dengan pembuatan diagram dan skenario bila terjadi bencana, memasukkannya dalam kurikulum di lembaga pendidikan setempat, pembentukan komunitas siaga bencana, sampai dengan penyiapan infrastrukturnya seperti tanda dan arah jalur evakuasi. Sehingga setiap orang memiliki karakteristik siaga bencana yang melekat. Ini semua dilaksanakan dengan tujuan untuk mengurangi risiko krisis kesehatan masyarakat yang terjadi dalam kondisi bencana.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: