Adaptasi Perpustakaan untuk Menarik Minat Generasi Millenial

Zulfadhli N, ditulis Februari 2010 seinget saya, gagalomba, lomba perpustakaan yg diadakan perpustakaan UGM

Ungkapan “membaca dapat membuka jendela dunia” nampaknya menjadi semakin relevan di era teknologi dan informasi saat ini. Persepsi dunia yang menjadi semakin datar, dan menjadi sebuah desa kecil, adalah karena sudah terbukanya sekat-sekat geografis dengan kunci-kunci informasi. Hal itu didapatkan salah satunya dengan membaca, baik membaca buku secara konvensional, terlebih lagi dengan teknologi yang dapat menunjang seseorang untuk membaca secara digital. Oleh karena itu, tidak salah jika orang-orang sukses dan besar di dunia ini adalah mereka yang menguasai informasi. Sementara orang-orang atau bangsa yang tertinggal dari sisi informasi mempunyai peluang lebih tertinggal dibandingkan dengan yang menguasai informasi.

Dengan informasi itulah terjadi pembukaan wawasan dalam diri seseorang. Membaca akan membuat seseorang menjadi cerdas, kritis, dan mempunyai daya analisa yang tinggi (Lili Roesma, 1994). Gray dan Rogers juga menyatakan lima manfaat membaca sebagai berikut.

1.  Meningkatkan pengembangan diri.

2.  Memenuhi tuntutan intelektual.

3.  Memenuhi kepentingan hidup.

4.  Meningkatkan minat terhadap suatu bidang.

5.  Mengetahui hal-hal yang aktual.

Namun yang disayangkan, minat baca masyarakat Indonesia masih jauh dari cukup. Menilik data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) pada 2003, dapat diketahui gambaran pola membaca penduduk. Penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada waktu minggu hanya 55,11%. Sementara itu, yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22%, buku cerita 16,72%, buku pelajaran sekolah 44,28%, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07%.

Data lainnya menunjukkan bahwa tren membaca tidak beranjak naik, alias stagnan sejak 1993. Rata-rata kenaikannya hanya sekitar 0,2%, yang sangat jauh dibandingkan konsumsi televisi yang kenaikannya mencapai 21,1%. Data pada 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5% dari total penduduk. Sementara itu, mendapatkan informasi dengan menonton televisi sebanyak 85,9% dan mendengarkan radio sebesar 40,3%.

Sebagian mungkin bertanya, bukankah menonton televisi juga dapat menambah wawasan karena tersedia pula banyak informasi di dalamnya? Jawabannya adalah belum tentu. Pakar komunikasi, Jalaluddin Rahmat,  memberikan beberapa argumentasi. Pertama, televisi adalah sebuah kegiatan yang orientasinya betul-betul bisnis. Oleh karena karena, itu informasi dalam televisi akan cenderung disajikan dan dikemas dalam bentuk-bentuk yang menarik, tidak terlalu sulit, sederhana, dan mengandung unsur human interest. Kedua, televisi hanya memberikan informasi sekilas, instan. Oleh karena hanya sekilas, tidak mungkin televisi memberikan presentasi yang mendalam tentang sesuatu hal. Televisi tidak akan memberikan informasi secara mendalam sehingga kita bisa melakukan refleksi terhadap informasi yang ditawarkan.

Fakta lainnya terkait kemampuan membaca, pada 1992 International Association for Evaluation of Educational (IEA) melakukan studi tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV di 30 negara di dunia. Kesimpulan dari studi tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Hasil itu hanya menempatkan negara kita setingkat di atas peringkat terakhir, yaitu Venezuela.

Kemudian, World Bank pada laporan pendidikan Education in Indonesia From Cricis to Recovery menyatakan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar di Indonesia masih di bawah negara Asia lainnya. Mengutip hasil penelitian Vincent Greannary pada 1998, dinyatakan bahwa Indonesia hanya mampu meraih nilai 51,7, sedangkan negara Asia lainnya yang juga menjadi objek studi, seperti Filipina, memperoleh nilai 52,6; Thailand dengan nilai 65,1; Singapura dengan nilai 74,0, dan Hong Kong memperoleh nilai 75,5.

Peran Perpustakaan dalam Mengembangkan Minat Baca

Tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa pembacaan, dan gudang bacaan adalah perpustakaan.” Itulah ungkapan The Liang Gie (1984) yang menunjukkan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi dalam suatu masyarakat. Perpustakaan selayaknya menjadi pusat rujukan informasi yang berperan dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat sekitarnya. Hampir semua definisi perpustakaan aktual pun menyatakan hal yang serupa.

Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu “pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan.“

Perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2001).

Secara lebih umum, Yusuf dan Suhendar (2005) menyatakan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang di dalamnya terdapat kegiatan penghimpunan, pengelolaan, dan penyebarluasan (pelayanan) segala macam informasi, baik yang tercetak maupun yang terekam dalam berbagai media seperti buku, majalah, surat kabar, film, kaset, tape recorder, video, komputer, dan lain-lain.

Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku (non-book material) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya (Sismanto, 2008).

Dalam Keputusan Presiden RI nomor 11 tahun 1983, disebutkan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Dapat kita lihat, kecenderungan definisi perpustakaan adalah bukan hanya sebagai tempat kumpulan buku-buku yang ditata dalam rak. Lebih dari itu, perpustakaan harus menjadi siklus informasi bagi penduduk yang pada akhirnya mencerdaskan masyarakat dan menunjang proses pendidikan.

Namun apakah hal tersebut sudah terwujud secara komprehensif? Jawabannya penulis uraikan dalamb beberapa data dan fakta berikut ini.

Pertama, secara kuantitas, perpustakaan di Indonesia masih belum mencukupi. Kuantitas ini pun dapat dilihat dari beberapa segi. Segi pertama adalah kuantitas institusi perpustakaannya. Data tahun 2000 menyatakan bahwa baru ada 18% dari 110.000 sekolah di Indonesia yang memiliki perpustakaan. Pun dari 64.000 desa, hanya sekitar 22% yang memiliki perpustakaan.  Padahal, berdasarkan Undang-Undang No.2 Tahun 1989 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 148 Tahun 1978 dan No. 28 Tahun 1984, setiap sekolah dan desa harus memiliki satu perpustakaan. Begitupun jumlah unit perpustakaan di berbagai departemen dan perusahaan, baru sekitar 31% dari jumlah yang seharusnya ada. Sementara daerah yang memiliki perpustakaan daerah sejumlah 345.

Alfons Taryadi dalam bukunya Buku dalam Indonesia Baru (1999) menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat satu perpustakaan nasional, 117 ribu perpustakaan sekolah dengan total koleksi 106 juta buku, 798 perpustakaan universitas, dan 326 perpustakaan khusus. Sementara itu, perpustakaan yang disediakan untuk masyarakat umum hanya 2.583 perpustakaan. Bila dirasiokan, satu perpustakaan umum yang ada berbanding dengan 85 ribu penduduk yang harus dilayani.

Kuantitas selanjutnya yang menjadi perhatian adalah kuantitas buku yang tersedia. Data dari Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar saja, dianggap masih minim dalam penyediaan buku. Perpustakaan milik pemerintah kota Yogyakarta masih kekurangan banyak buku. Di perpustakaan tersebut hanya ada 8.553 judul buku dengan jumlah eksemplar 14.373, padahal idealnya 15.000 judul, setiap judul minimal 10 eksemplar, atau dengan kata lain ada 150.000 buku.

Itu juga berkorelasi dengan jumlah buku yang diterbitkan. China dengan penduduk 1,3 miliar jiwa sudah mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa penduduk hanya mampu menerbitkan 10.000 judul buku baru per tahunnya.

Aspek kedua, adalah kualitas. Ini berkaitan dengan kondisi perpustakaan dengan segala fasilitasnya yang bermutu, layak, dan nyaman, sehingga membuat masyarakat tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Beberapa hal yang terkait dengan keluhan kualitas adalah koleksi bukunya yang sudah lama dan tidak terawat. Dari sekitar 50 ribuan koleksi yang dimiliki Perpustakaan Surakarta misalnya, hampir seluruhnya adalah buku-buku lama. Bahkan karena tidak ada dana perawatan, maka 10% di antaranya sudah rusak seperti lapuk dan terkelupas sampulnya. Data tahun 2000 menyatakan, dari seluruh perpustakaan sekolah yang ada di Indonesia, yang jumlahnya sangat minim, 80%-nya juga dinyatakan belum memiliki  fasilitas yang memadai.

Aspek ketiga yang penulis bahas dalam tulisan ini, adalah terkait dengan pemanfaatan (utilisasi). Dengan berbagai kondisi tadi, maka ditarik garis lurus bahwa pemanfaatannya juga berkurang. Data kunjungan perpustakaan dari tahun 2006 – 2008 di Perpustakaan Nasional misalnya, menunjukkan tren yang terus menurun. Di tahun 2006 jumlah pengunjung Perpustakaan Nasional yang tercatat sejumlah 62.493, dan turun drastis di tahun 2007 hanya dengan jumlah pengunjung 56.902, dan berkurang lagi di tahun 2008 dengan jumlah pengunjung 50.925. Dari 33 perpustakaan di Indonesia yang tercatat dalam data kunjungan tersebut, jumlah pengunjung perpustakaan di Indonesia sejumlah 4.708.016 pada tahun 2006, semakin menurun menjadi 4.433.688 pada tahun 2007 dan menjadi 4.421.739 pada tahun 2008.

Konsep Perpustakaan Untuk Generasi Millenial

Jika dikemas dengan konsep pengelolaan yang biasa-biasa saja, nampaknya sulit bagi perpustakaan untuk semakin menarik minat pengunjung. Perpustakaan paling tidak hanya akan menjadi tempat konsentrasi bagi orang-orang tertentu saja yang merasa wajib mendatanginya, seperti akademisi atau pelajar, itupun hanya pada waktu-waktu tertentu terutama ketika akan menyelesaikan tugas belaka, atau ketika penulisan tugas akhir seperti skripsi, tesis atau disertasi. Padahal diharapkan perpustakaan juga menjadi center of excellent yang mengkulturkan membaca bagi semua kalangan.

Untuk memulai hal tersebut, maka harus dibuat upaya agar masyarakat merasa memiliki kebutuhan terhadap perpustakaan. Agar masyarakat memiliki kebutuhan terhadap perpustakaan, maka masyarakat harus merasa nyaman dan senang untuk mengunjungi perpustakaan, sebagaimana yang disebutkan Darmono (2001) dalam definisinya mengenai perpustakaan bahwa salah satu fungsinya adalah sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Generasi yang seharusnya mendapat porsi perhatian besar dalam hal membaca ini adalah generasi muda. Generasi inilah yang akan mengisi ruang-ruang strategis di negara ini pada masa yang akan datang. Termasuk merekalah yang akan menjadi angkatan kerja tulang punggun ekonomi negara, dan sudah seharusnya memiliki kapasitas intelektual yang mencukupi untuk membangun bangsa agar tidak tertinggal di banding negara-negara lain.

Adalah generasi millenial, atau sering pula diidentikkan dengan istilah Digital Natives, Generation Y, Echoboom, Next Generation, atau Net Generation, sebuah generasi yang lahir setelah tahun 1980an dan memiliki karakteristik dominan yang selalu terhubung dengan dunia teknologi informasi melalui berbagai sarana online baik dengan mobile technology maupun teknologi berkabel.

Namun perlu dijelaskan di awal, bahwa generasi ini juga dipandang dengan kekhawatiran dalam beberapa hal. Prospek ekonomi untuk generasi millenial ini dianggap memburuk terkait dengan akhir resesi abad 20. Beberapa pemerintah bahkan telah menyusun skema untuk mengantisipasi kegelisahan sosial seperti huru-hara Yunani 2008 akibat peningkatan tingkat pengangguran pemuda. Di Eropa, tingkat pengangguran pemuda sangat tinggi (40% di Spanyol, 35% di daerah Baltik, 30% di Inggris dan lebih dari 20% di daerah lain). Pada tahun 2009, pengamat terkemuka mulai mengkhawatirkan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang akibat pengangguran tesebut. Tingkat pengangguran di wilayah lain dunia juga tinggi, seperti di Amerika Serikat yang mencapai rekor 18,5% pada Juli 2009 sejak pertama kali statistik dilaksanakan tahun 1984.

Relevansinya dengan perpustakaan, adalah sudah seharusnya perpustakaan berkontribusi menarik minat generasi millenial ini terhadap kegiatan membaca yang positif. Wawasan yang konstruktif bagi pengembangan kepribadian generasi yang didapat dari hasil membaca, juga manfaat membaca lain sebagaimana yang telah disebutkan Gray dan Rogers, diharapkan dapat mengantisipasi berbagai hal yang dikhawatirkan menimpa generasi ini. Generasi millenial tidak hanya terlena dengan kemajuan teknologi dan informasi, tetapi juga menjadi generasi yang semakin cerdas dan analitis terhadap perubahan lingkungan global, dan itu didapatkan salah satunya dengan membaca.

Karakteristik yang secara eksplisit terlihat jelas dari generasi ini adalah pemanfaatan teknologi informasi. Perpustakaan harus menyesuaikan dengan karakter tersebut agar perpustakaan ke depan tidak hanya fokus pada institusinya sendiri, tetapi juga fokus pada kebutuhan masyarakat terhadapnya. Beberapa antisipasi telah dilakukan oleh pihak yang peduli terhadap hal ini dengan konsep digital library (perpustakaan digital). Perpustakaan digital ini setidaknya dikelola dengan dua konsep, yaitu pendigitalan literatur dan dokumen, serta pembangunan database yang meliputi proses automatisasi katalog dan pencarian literatur dan dokumen. Di Indonesia, telah diinisiasi dengan Indonesia Digital Library Network (IndonesiaDLN) yang memiliki jaringan perpustakaan universitas-universitas di Indonesia serta beberapa institusi pemerintah.

Akan tetapi, IndonesiaDLN juga nampaknya belum menyentuh masyarakat secara umum jika dilihat dari komposisi jaringannya yang sebagian besarnya terdiri dari universitas-universitas yang notabene diisi oleh orang-orang yang sudah berpendidikan tinggi. Walaupun perpustakaan digital ini juga dapat diakses oleh masyarakat umum, akan tetapi masyarakat umum pun belum mengetahui bagaimana memanfaatkannya.

Menilik karakteristik generasi millenial, diperlukan upaya kreatif agar perpustakaan digital ini dapat dibuat menarik semenarik facebook atau aplikasi yang disenangi generasi millenial, disertai games online jika perlu dalam lingkup yang tetap konstruktif dan positif. Misalnya, dibuat situs jejaring sosial di mana anggotanya dapat berdiskusi mengenai buku, sekaligus di situ terdapat koleksi digital yang dapat diakses, saling sharing koleksi, dan sebagainya.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh perpustakaan, dalam hal ini perpustakaan dalam konteks sebagai tempat, adalah pengemasannya yang dibuat agar tidak kaku dan terlihat sangat elit seperti hendak menunjukkan bahwa orang-orang terdidik sajalah yang dapat memasukinya. Justru peran perpustakaanlah agar mengubah masyarakat yang kurang terpapar informasi, atau untuk mengatakan kurang terdidik, menjadi tertarik memasuki perpustakaan sehingga dengan demikian lebih terbuka wawasannya.

Konsep perpustakaan yang santai namun tetap elegan dapat dibuat dengan menyesuaikan dengan karakteristik generasi millenial yang sangat lekat dengan dunia digital dipadu entertainment. Menurut pemikiran penulis, dapat mulai dipikirkan bagaimana pada jam-jam tertentu di dalam perpustakaan diiring alunan instrumen musik yang easy-listening namun tetap tidak mengganggu aktivitas di dalamnya.

Konsep lain yang dapat dipikirkan juga adalah tentang pemanfaatan entertainment yang relevan dengan kepustakaan dan dapat menarik minat membaca masyarakat. Misalnya pada waktu tertentu dapat dilaksanakan pemutaran audio-visual mengenai resensi suatu buku, atau pemutaran film-film yang terinspirasi dari literatur yang terdapat di perpustakaan tersebut. Terlebih bila dilanjutkan dengan pembahasan dan diskusi oleh beberapa pakar terkait.

Fungsi perpustakaan seharusnya juga dapat mendinaminasi wacana dan pemikiran dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu, wajah pasif yang diperlihatkan oleh perpustakaan selama ini harus diubah menjadi center of excellent. Untuk itu, diperlukan ruang diskusi baik dalam arti tempat dan substansinya. Disediakan ruang khusus untuk berdiskusi mengenai hal-hal aktual yang berkembang di masyarakat dan dikaji dengan memanfaatkan literatur-literatur. Dapat pula sewaktu-waktu difasilitasi oleh pihak pengelola dengan pelaksanaan seminar dan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber dan pakar.

Beberapa sarana pendukung yang semakin membuat enjoy pengunjung dapat ditambahkan seperti fasilitas hotspot gratis, dengan jumlah komputer yang cukup, kantin, disertai dengan tampilan yang sesuai. Itu semua dilaksanakan dengan tetap memperhatikan substansi pengembangan minat bacanya, bukan semata-mata entertainment semata. Yang penting juga untuk pengembangan adaptasi perpustakaan terhadap generasi millenial ini adalah tentu saja adalah penggencaran sosialisasi dan perhatian terhadap tenaga pustakawan sehingga semua upaya tadi tidak tandas dan optimisme pengembangan perpustakaan menjadi hilang.

Referensi

Media Indonesia. “Sekitar 80 Persen Sekolah tak Punya Perpustakaan.” , 31 Agustus 2000,

Supriyono, “Kontribusi Pustakawan dalam Meningkatkan Minat Baca,” Media Pustakawan, Vol. V., No.3 September 1988.

Herlianto, Dudi. “Analisis: Minat Baca Indonesia, Belum Menjadi Sumber Informasi,” Media Indonesia, Jumat 28 Maret 2008.

Yuadi, Imam. “Perpustakaan Digital: Paradigma, Konsep, dan Teknologi Informasi yang Digunakan,” diakses dari internet, 21 Februari 2009.

Subrata, Gatot. “Perpustakaan Digital.” Pustakawan Perpustakaan UM, Oktober 2009.

Priyanto, Ida F. “Minat Baca Versus Perpustakaan.” Makalah, 24 November 2009.

Sari, Novita Triana. “Pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan Dan Media Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Ekonomi Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Kartasura Tahun Ajaran 2008/2009.” Skripsi, UMS, 2008.

Syaifullah Muhammad. “Yogya Kota Pelajar, Perpustakaannya Kurang Buku.” Tempo Interaktif 23 April 2009

Wikipedia. “Perpustakaan Digital.” Diakses 21 Februari 2010.

Koran Tempo. “Koleksi Perpustakaan Daerah Minim.” 15 Mei 2009

Suwardi. “Ciptakan Budaya Membaca Sejak Dini.” Situs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, diakses 21 Februari 2010.

Primartantyo, Ukky. “Perpustakaan daerah Makin Sepi Peminat.” Tempo Interaktif 18 Februari 2009.

Wikipedia. “Generatin Y.” Diakses 21 Februari 2010.

http://www.asmakmalaikat.com/go/buku/31082000_1.htm

http://www.isei.or.id/page.php?id=5jun073

http://cabiklunik.blogspot.com/2008/03/analisis-minat-baca-indonesia-belum.html

http://www.endradharmalaksana.com/content/view/204/46/lang,indonesia/

http://etd.eprints.ums.ac.id/3822/1/A210050055.pdf

library.um.ac.id/images/stories/pustakawan/…/Perpustakaan%20Digital.pdf

journal.unair.ac.id/filerPDF/PERPUSTAKAAN%20DIGITAL.pdf

http://media.diknas.go.id/media/document/4848.pdf

http://indonesiabuku.com/?p=2514

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: